Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the acf domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain bridge dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
PUSAD Paramadina | Resolusi Konflik Sebagai “Counter-Radicalization”
 

Resolusi Konflik Sebagai “Counter-Radicalization”

Resolusi Konflik Sebagai “Counter-Radicalization”

 

“…masalah Rohingya perlu diselesaikan segera karena… konflik tersebut dapat berfungsi sebagai pendorong radikalisasi dan ekstremisme.”

 

Masalah konflik etnis Rohingya di Burma/Myanmar harus lekas diselesaikan supaya tidak menjadi sumber keresahan kelompok radikal termasuk di kalangan Muslim. Disadari proses keterbukaan, yang sedang terjadi di negeri itu, juga harus mencakup penanganan masalah minoritas secara mendasar.

Di Asia Tenggara, Burma adalah negara yang tercatat memiliki konflik internal paling banyak – baik berdasarkan data agregat Conflict Information System di Universitas Heidelberg, Jerman, maupun Uppsala Conflict Data Program di Jurusan Riset Perdamaian dan Konflik, Universitas Uppsala, Swedia. Sebagian besar dari konflik ini adalah pemberontakan, tuntutan otonomi, dan pemisahan diri dari berbagai suku dan kelopok minoritas keagamaan di negeri itu.

Tetapi, masalah konflik etnis Rohingya di Myanmar mendapat perhatian tersendiri karena gaung internasionalnya yang lebih luas. Bahkan Organisasi Konferensi Islam (OKI), dalam pertemuan di Malaysisa baru- baru ini mengecam Myanmar. Kecaman juga disuarakan dalam protes yang terjadi di berbagai kota, baik di Indonesia maupun di luar negeri seperti di Iran, Malaysia, Palestina, Pakistan, dan Turki.

Namun, pada dasarnya masalah Rohingya perlu diselesaikan segera karena negara-negara di Asia Tenggara punya pengalaman buruk sehubungan dengan konflik internal yang berlarut-larut. Secara spesifik, konflik tersebut dapat berfungsi sebagai pendorong radikalisasi dan ekstremisme. Kelompok-kelompok radikal Muslim tidak hanya memandang penting konflik di Afghanistan, Chechnya, Irak, dan Palestina. Konflik internal di Indonesia, Filipina Selatan, Thailand Selatan, dan sekarang Burma juga sama pentingnya dan dipersepsikan sebagai serangan terhadap Islam. Konflik internal yang tak diselesaikan adalah unsur penting keresahan dan kemarahan yang diartikulasikan kelompok-kelompok radikal.

Selain itu, berdasarkan pengalaman pahit Indonesia, konflik internal yang melibatkan masyarakat Muslim dapat menjadi mekanisme pemicu bagi berbagai proses berbahaya lainnya. Salah satu di antaranya adalah mobilisasi pemuda Muslim ke lokasi konflik, khususnya kelompok-kelompok jihad di Asia Tenggara yang sudah memiliki jaringan regional. Sehingga konflik internal yang berlarut akan melanggengkan mobilisasi jihad dan memunculkan kelompok radikal dan ekstremis ke permukaan.

Jusuf Kalla, pimpinan Palang Merah Indonesia, sudah mengunjungi Myanmar dan lokasi konflik di Arakan. Ia bertemu dengan Presiden U Thein Sein, membicarakan bantuan rehabilitasi wilayah konflik, seperti membangun ribuan rumah, dengan harapan situasi dapat kembali normal. Setelah itu, mungkin, barulah penyelesaian yang lebih mendasar dibicarakan.

Apakah penyelesaian yang mendasar terhadap masalah Rohingya? Jawabnya sederhana, yaitu inklusi atau penerimaan dan pengakuan etnis Rohingya sebagai warganegara Burma. Mengapa jawaban sederhana ini tampaknya masih sulit diterapkan?

Presiden U Thein Sein mengatakan masalah Rohingya selesai bila mereka keluar dari negeri itu atau ditempatkan di pengungsian. Memang, bibit kekerasan terhadap minoritas telah ditanam lama dalam sejarah otokrasi dan rejim militer Myanmar. Korbannya tak hanya minoritas Muslim Rohingya tapi belasan kelompok minoritas agama dan etnis lain.

 

Rizal Panggabean

Researcher
Program on Peace Building and Violence Radicalims (PILAR)
Institute of International Studies (IIS), UGM

 

PUSAD Paramadina
admin@paramadina-pusad.or.id