Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the acf domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain bridge dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
PUSAD Paramadina | Mengenang Djohan
 

Mengenang Djohan

Mengenang Djohan

KABAR Djohan Effendi wafat di Geelong, Australia, tempat dia terakhir menetap, sebenarnya tak terlalu mengejutkan. Sudah lama kami, saya dan beberapa kawan yang mengaku murid “Pak Djohan”, tahu dia sakit. Seingat saya, di tengah sakit itulah dia menyelesaikan Pesan-pesan Al-Quran (2012), karyanya yang terakhir. Tapi lubang dalam hati ini terasa lebih lebar ketika tahu dia betul sudah pergi pada 17 November 2017.

Kami kerap menemuinya tiap kali dia pulang. Kecuali sakitnya, Djohan masih seperti yang mulai kami kenal tiga dekade lalu: selalu bersemangat dengan ide, khususnya terkait dengan pluralisme, tapi terutama dengan bagaimana ide itu diperjuangkan. Meski dia tidak menyatakannya, kami bisa menangkapnya dari sorot matanya yang tajam dan gerak tubuhnya yang seperti tak mau tetirah. Djohan adalah si pendiam dengan banyak pergolakan pikiran, si lemah lembut dengan prinsip tak terbeli.

Sisi inilah yang akan dikenang orang dari Djohan. Dia tak hanya berdakwah soal pentingnya sikap terbuka dalam beragama agar saling pengertian antar dan intra-agama bisa tumbuh, tapi juga aktif membela kelompok-kelompok minoritas agama atau kepercayaan, termasuk aliran-aliran “sesat”. Ketika Ahmadiyah hendak dibubarkan pada 2008, kemarahannya memuncak: “Apakah Menteri Agama akan mengusir warga Ahmadiyah, atau memenjarakan mereka, atau mengiring mereka ke pekuburan massal…?”

Untuk itu, Djohan sering dikecam sebagai pengikut Ahmadiyah, ingin menyatukan agama-agama, atau “antek Yahudi”. Untungnya, dia jenis manusia langka yang tak peduli terhadap apa kata orang lain tentangnya. Sikapnya bulat soal ini, karena begitulah Islam mengajarkannya: hak orang untuk memilih agama harus dihormati, tidak ada paksaan dalam beragama, dan kebenaran sejati hanya milik Allah. Semuanya meningkatkan militansinya dalam menentang eksklusivisme, yang juga membuatnya lebih rendah hati.

Dalam posisi di atas, Djohan sering disandingkan dengan Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bedanya, selain bukan orang Jawa seperti dua karibnya itu, dia lebih pendiam dan kurang artikulatif. Itu sebabnya dia tak seterkenal Cak Nur atau Gus Dur- jika alat ukur ini kita gunakan di sini, seakan-akan dia akan peduli.

Tapi peran-peran Djohan di balik layar juga amat penting. Sebagai kawan dekat Ahmad Wahib, dia antara lain berjasa mengabadikan catatan harian kawannya itu dalam Pergolakan Pemikiran Islam (1981), yang hingga kini menjadi sumber inspirasi bagi sikap kritis anak-anak muda dalam beragama. Ketika membantu Menteri Agama Mukti Ali pada awal 1970-an, dia ikut memelopori dialog antaragama, yang kini makin berkembang. Dan sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama, sebelum Presiden Gus Dur menjadikannya Menteri Sekretaris Negara pada 2000, dia ikut menumbuhkan tradisi riset sosial di kantor itu.

Nilai lebih Djohan lainnya terletak pada aktivismenya. Dia, misalnya, ikut membangun Dian Interfidei dan Indonesian Conference on Religion and Peace, dua lembaga non-negara tertua yang mengadvokasi toleransi beragama. Dia juga sangat sadar mengenai kaderisasi, jauh melampaui Cak Nur atau Gus Dur. Saya pertama kali berjumpa dengannya pada pertengahan 1980-an dalam satu acara Kelompok Studi Proklamasi, yang berlangsung di rumahnya. Djohan tidak hanya mau meminjamkan bukunya, tapi juga menyunting terjemahan awal saya. Saya tahu banyak kawan lain yang sama beruntungnya dengan saya terkait dengan almarhum.

Di luar itu semua, Djohan adalah sufi agung yang tak pernah mengaku sufi, apalagi mendakwahkannya. Kesederhanaannya sudah melegenda. Ketika masih hidup, dia contoh par excellence beda antara sederhana dan miskin, yang sering pura-pura tidak diketahui para aktivis.

Saya yakin asketisme juga jadi kunci independensi Djohan dalam bergaul dengan kekuasaan. Karena kekuasaan yang membutuhkannya dan bukan sebaliknya, semuanya harus berlangsung on his terms, termasuk ketika dia menjadi penulis pidato Presiden Soeharto (1978-1995). Dia menuliskan apa saja yang dianggapnya penting, dan silakan kekuasaan memilih apa yang mau disampaikannya.

Untuk semua pelajaran itu, kita berutang kepadanya. Salam dan beristirahatlah dalam damai, Pak Djohan.

Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi, Yayasan Paramadina, Jakarta

Read more at: https://majalah.tempo.co/konten/2017/11/26/OBI/154432/Mengenang-Djohan/40/46

Siti Nurhayati
aya@paramadina-pusad.or.id