Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the acf domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain bridge dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
PUSAD Paramadina | Rizal Panggabean: Polisi Belum Optimal Lindungi Kebebasan Beragama
 

Rizal Panggabean: Polisi Belum Optimal Lindungi Kebebasan Beragama

Rizal Panggabean: Polisi Belum Optimal Lindungi Kebebasan Beragama

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com – Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Rizal Panggabean menilai, polisi belum optimal dalam memelihara dan melindungi kebebasan beragama setiap warga negara. Sebaliknya, polisi sering datang terlambat saat kejadian konflik keagamaan berlangsung.

“Biasanya polisi datang ketika keadaan sudah tegang atau datang saat serangan terjadi, atau datang setelah benturan dan serangan terjadi,” katanya dalam diskusi ‘Polisi dan Pemolisian Agama’ di Fisipol UGM.

Yang lebih mengkhawatirkan, tambahnya, polisi lebih banyak memihak kelompok agama mayoritas dibanding minoritas. Dia mencontohkan kasus di beberapa daerah, polisi muslim memihak muslim dalam kasus Ahmadiyah di Cikeusik dan Mataram. Polisi Kristen memihak masyarakat Kristen dalam kasus koflik komunal Islam-Kristen di Poso dan Ambon.

Tidak hanya itu, polisi juga lebih banyak melakukan aksi diam saat terjadi konflik. “Di Cikeusik, polisi ditugaskan hanya untuk merekam gambar saat warga Ahmadiyah dibantai. Tidak ada polisi dalam jumlah yang memadai untuk mencegah pembunuhan. Sementara insiden di Palu barat, polisi yang datang tidak bawa senjata dan pemukul akibatnya kelompok Madi mebantai tiga perwira polisi,” ungkapnya.

Dia berpendapat, ketidaktegasan polisi dalam menengahi konflik agama disebabkan problem identitas. Sebagian polisi masih menganggap agama lebih penting dari profesi. “Bagi mereka setelah tidak menjadi polisi, mereka adalah penganut agama,” imbuhnya.

Sebagai pengayom masyarakat, Dia menilai polisi harusnya jadi cerminan masyarakat termasuk paham kegamanaan dan ideologisnya. Karena itu polisi harus lebih mengedepankan kebebasan beragama. Kendati bukan pihak satu-satuya yang bertanggungjawab dalam memelihara dan melindungi kebebasan beragama namun kerja sama polisi dengan para tokoh agama dan pemerintah mampu mencegah timbulnya konflik.

“Ahmadiyah di Garut tidak ada konflik karena tokoh Ahmadiyah dan polisi bekerja sama. Berbeda dengan di Sukabumi. Di Singkawang, tokoh agama, polisi dan pimpinan FPI diskusi ketika FPI akan melakukan demo di Singkawang,” tambah dosen Fisipol UGM itu.

( Bambang Unjianto / CN26 / JBSM )

 

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/06/05/120352

Irsyad Rafsadi
irsyad@paramadina-pusad.or.id