10 Okt Religious Bridging and Religious Tolerance in the Muslim World
Studi-studi menemukan tingkat toleransi di negara Muslim umumnya rendah meskipun dukungan terhadap demokrasi tinggi. Nathanael Gratias, kandidat doktor University of Notre Dame, berusaha menjelaskan hal itu dengan menganalisis dua survei Pew Research Center. Dia menemukan bahwa rendahnya tingkat toleransi ini dipengaruhi rendahnya tingkat religious bridging atau pertemanan lintas-iman di kalangan Muslim.
Paper hasil studi Nathanael ini kini sedang dalam proses review di salah satu jurnal dan kelak akan menjadi salah satu bab dalam disertasinya. Paper ini didiskusikan dalam forum riset PUSAD Paramadina pada Jumat, 30 September 2016. Forum ini khusus membahas riset-riset yang masih dalam proses. Selain ditujukan untuk memberi saran dan masukan kepada peneliti yang bersangkutan, forum ini juga menjadi ajang untuk berbagi pengalaman riset kepada para peneliti muda agar terdorong mengembangkan risetnya sendiri.
Karena itu, di setiap pertemuan ada pembahas yang menanggapi secara serius dan ada peserta diskusi umum. Pembahas dalam forum kali ini adalah Sana Jaffrey (Chicago University), Zainal Abidin-Bagir (Universitas Gadjah Mada), dan Ihsan Ali-Fauzi (PUSAD Paramadina). Nathanael dipersilakan untuk memaparkan garis besar studinya, lalu dilanjutkan dengan tanggapan dan diskusi dengan para pembahas. Setelah itu peserta lain dipersilakan untuk menyampaikan tanggapan atau pertanyaan.
Dalam paparannya, Nathanael menunjukkan bahwa tingkat religious bridging yang diukur survei terkait positif dengan berbagai ukuran religious tolerance. Dia juga menunjukkan bahwa tingkat religious bridging umat Muslim di negara mayoritas Muslim memang lebih rendah jika dibandingkan dengan umat Katolik di negara mayoritas Katolik di Amerika Latin.
Studi Nathanael mendapat apresiasi dari penanggap dan peserta diskusi. Bridging masih sangat jarang dipelajari dalam kaitannya dengan toleransi dan lebih banyak dikaitkan dengan kekerasan politik. Selain itu, konsep bridging juga belum banyak cara pengukurannya.
Tapi kelemahan studi Nathanael, menurut para pembahas, terletak pada segi konseptual dan problem kausal. Dari segi konsep, studinya kurang banyak mendalami konsep toleransi dan bridging sehingga keduanya tampak tumpang tindih. Pilihan orang untuk berteman juga kadang secara struktural terbatas dan tidak sepenuhnya merupakan pilihan individu.
Sementara terkait problem kausal, Nathanael sudah menyebutkan di dalam papernya, dan studinya hanya mengklaim korelasi, bukan kausasi. Para pembahas hanya menyarankan agar dependent variable dan independent variable benar-benar berbeda dan tidak sedang mengukur satu konsep yang sama. Para pembahas juga mengusulkan agar Nathanael memasukkan penjelasan meso, yaitu neighborhood.[]