Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the acf domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain bridge dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
PUSAD Paramadina | Malam Pemenang Esai: Pidato Kunci: Jacklevyn Frits Manuputty
 

Malam Pemenang Esai: Pidato Kunci: Jacklevyn Frits Manuputty

Malam Pemenang Esai: Pidato Kunci: Jacklevyn Frits Manuputty

Sayembara ini mendapat sambutan hangat dari seluruh Indonesia. Hingga ditutup pada 30 November 2017, sayembara diikuti 1.083 peserta: masing-masing 800 orang mahasiswa dan 283 orang siswa sekolah menengah atas, meski tidak semuanya lolos seleksi administrasi. Sayembara ini akan memilih 6 (enam) pemenang untuk mendapatkan hadiah total sebesar Rp. 37.500.000 (tiga puluh tujuh juta lima ratus rupiah). Dewan juri terdiri dari lima penulis dan aktivis perdamaian yang sering tampil sebagai komentator sosial. Mereka adalah: Zen RS (editor Tirto.id dan penulis Jalan Lain ke Tulehu); Feby Indirani (novelis dan penulis Bukan Perawan Maria); Pangeran Siahaan (presenter televisi, penulis The Big Pang Theory); Irfan Amalee (pendiri Peace Generation dan Islamcinta.co); dan Irsyad Rafsadi (peneliti dan penyunting buku Carita Orang Basudara). Para juri sangat terkesan dengan esai-esai yang masuk. Mereka menyatakan: “Menyimak esai-esai yang masuk, para juri tak jarang ikut terbawa oleh kengerian dan kegetiran yang dialami dan dituturkan mereka yang jadi korban kekerasan. Mereka mungkin tidak menawarkan gagasan atau terobosan baru, tapi pengalaman mereka begitu dekat dan relevan dengan banyak orang. Kami juga terharu membaca harapan dan pergulatan mereka untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih damai.”

PUSAD Paramadina
admin@paramadina-pusad.or.id