Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the acf domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain bridge dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
PUSAD Paramadina | Ketika Sekolah Didominasi Agama
 

Ketika Sekolah Didominasi Agama

Ketika Sekolah Didominasi Agama

Layu Sebelum Berkembang adalah sebuah film dokumenter arahan Ariani Djalal yang mengamati berakhirnya masa kanak-kanak dan bagaimana gadis-gadis muslim tumbuh di kalangan kelas menengah Indonesia saat ini. Film ini memotret kehidupan dua keluarga di Yogyakarta, pada masa-masa yang menentukan dalam kehidupan pendidikan anak gadis mereka. Sementara itu, sistem pendidikan umum di Indonesia tengah mengalami perubahan karena ditekan oleh partai-partai politik islami. Institusi yang semula sekuler kini condong membentuk berjuta-juta anak mengalami masa muda yang submisif dengan cara memasukkan lebih banyak lagi kegiatan keagamaan dalam kehidupan sekolah mereka.

Film ini diputar dan didiskusikan dalam Nobar Pisa pada tanggal 9 Januari 2015 di Pisa Cafe, Mahakam. Acara ini dimulai pukul 16.00 dan selesai pada pukul 21.00 dan diselingi dengan makan malam. Pasca pemutaran film dan makan malam, diadakan diskusi dengan menghadirkan Eric Sasono (kritikus film) dan Ariani Djalal (sutradara film). Film ini diikutsertakan dalam festival film dokumenter ChopShots pada tahun 2014 dan mendapat Silver Hanoman dan Special Mention pada Festival Film Dokumenter Yogyakarta.

Eric menyampaikan bahwa film ini menggambarkan kondisi kelas precariat atau kelas pekerja yang cemas, gabungan antara precarious dan proletariat yaitu kelas menengah namun serba tidak pasti. Hal ini terlihat dari kondisi tokoh yang selalu tertekan dan cemas akan masa depannya. Kecemasan ini ditambah pula dengan tekanan sekolah dan orang tua.

Melalui film ini, Ariani ingin membangunkan orangtua yang tertidur, yang justru menekan anaknya untuk berkompetisi. Orangtua justru membenarkan sistem sekolah yang militeristik dan mematikan potensi anak. Film ini juga ditujukan untuk pengambil keputusan agar melihat kenyataan pendidikan di Indonesia seperti ini.

Dalam sesi diskusi yang disambut antusiasme peserta yang berjumlah sekitar 70 orang dan dimoderatori oleh Ihsan Ali-Fauzi, penanya memberikan apresiasi dan sepakat bahwa dokumenter ini penting untuk disebarluaskan ke masyarakat umum, khususnya orangtua. Diskusi ini menarik untuk melihat sejauh mana pengaruh agama dalam proses pendidikan dan bagaimana agama tertentu mendominasi dan mendiskriminasi minoritas. Hal ini akan menjadi sumbangan penting bagi pengambil kebijakan, terutama Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. (Ayu Mellisa)

Husni Mubarak
husni_mubarak2@yahoo.co.id