Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the acf domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain bridge dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
BEGIN:VCALENDAR
PRODID://WordPress//Event-Post-V5.9.2//EN
VERSION:2.0
BEGIN:VTIMEZONE
TZID:Asia/Jakarta
BEGIN:DAYLIGHT
TZOFFSETFROM:+0100
TZOFFSETTO:+0700
DTSTART:19700329T020000
RRULE:FREQ=YEARLY;BYDAY=-1SU;BYMONTH=3
END:DAYLIGHT
BEGIN:STANDARD
TZOFFSETFROM:+0700
TZOFFSETTO:+0100
TZNAME:CET
DTSTART:19701025T030000
RRULE:FREQ=YEARLY;BYDAY=-1SU;BYMONTH=10
END:STANDARD
END:VTIMEZONE
BEGIN:VEVENT
SUMMARY:[Ringkasan Artikel RISOS #4] Hantu Imperialisme Akademis?: Universitas Barat dan Pemikiran Islam Modern di Indonesia
UID:https://www.dev.paramadina-pusad.or.id/ringkasan-artikel-risos-4-hantu-imperialisme-akademis-universitas-barat-dan-pemikiran-islam-modern-di-indonesia/
LOCATION:
DTSTAMP:20220922
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20220922
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20220922
DESCRIPTION:Hantu Imperialisme Akademis?: Universitas Barat dan Pemikiran Islam Modern
di Indonesia
Dalam buku ini, Abbas mengulas bagaimana keterkaitan antara universitas di
Barat dengan sejarah pemikiran Islam modern, khususnya di negara Indonesia.
Beragam universitas di Barat
menjadi ruang penting bagi produksi pengetahuan keislaman dan otoritas
keagamaan di dunia Muslim. Hal ini terjadi dalam beberapa dekade terakhir
sejak pertengahan abad ke-20. Pada
masa itu, semakin banyak mahasiswa Indonesia yang pergi belajar ke beberapa
perguruan tinggi di Barat sebelum mereka kembali ke Tanah Air dan menduduki
posisi-posisi penting di
bidang sosial dan politik. Pada masa-masa sebelumnya, para pemimpin Muslim
yang menonjol di Indonesia memperoleh pendidikan mereka di berbagai
madrasah dan perguruan tinggi di
Timur Tengah atau wilayah Nusantara sendiri.
Buku ini menganalisis pengaruh jangka panjang perubahan di atas baik
terhadap komunitas Muslim secara umum maupun terhadap kajian-kajian
keislaman sebagai sebuah disiplin
keilmuan. Perdebatan besar antara dua kerangka besar studi keislaman:
dualisme dan fusionisme juga menjadi konteks perkembangan sejarah pemikiran
Islam di Indonesia yang
pengaruhnya tak lepas dari perkembangan di kampus Barat. Pandangan dualisme
melihat tradisi ilmu Barat dan ilmu Islam sebagai dua hal yang saling
bertentangan. Sementara
pemikiran fusionis percaya bahwa kedua tradisi kelimuan tersebut tidak
saling bertentangan dan justru dapat dipadukan menjadi satu sistem kelimuan
yang lebih komprehensif.
Pengalaman studi dan kiprah beberapa tokoh Muslim Indonesia yang mengenyam
pendidikan tinggi di universitas Barat tersebut juga dibahas dengan cukup
detail dalam buku ini. Beberapa
di antaranya seperti Mukti Ali dan Harun Nasution (Universitas McGill,
Kanada), serta Nurcholish Madjid, Amin Rais dan Syafii Maarif (Universitas
Chicago, Amerika Serikat).
Warisan pemikiran maupun kebijakan tokoh-tokoh tersebut masih bisa kita
rasakan di Indonesia hingga saat ini seperti tata kelola kehidupan
antar-agama serta pengembangan kurikulum pembelajaran agama.
Menurut Abbas, keterkaitan antara dunia akademis Barat dan Islam di
Indonesia tidak saja memperkokoh jaringan transnasional baru, melainkan
juga mendisrupsi model otoritas yang
sebelumnya dominan di dalam kedua wilayah itu. Bagi para intelektual
Muslim, mempelajari Islam di universitas-universitas Barat memang
menawarkan kesempatan untuk bereksperimen
dengan disiplin-disiplin akademis dan untuk merenungkan lagi iman mereka.
Tetapi hal itu juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana
“memelihara” tradisi Islam dari campur-
tangan Barat. Sementara itu, bagi para akademisi Barat, kaitan-kaitan baru
ini memunculkan masalah etis penting tentang peran mereka di dalam politik
pembangunan global dan reformasi keagamaan Islam.
Benarkah perubahan dalam “kiblat” mahasiswa Muslim Indonesia belajar
seperti didiskusikan di atas seberpengaruh seperti yang digambarkannya,
misalnya dalam perkembangan reformasi
Islam di Indonesia? Jika ya, apakah hal itu diakibatkan oleh “tipisnya
iman” para mahasiswa yang belajar ke Barat itu atau karena reformasi
Islam memang memerlukan fondasi kebebasan
akademis yang saat ini disediakan oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi di
Barat? Dalam pengembangan pemikiran Islam, apakah distingsi antara “orang
luar” dan “orang dalam” masih
relevan? Apa yang salah jika para sarjana Barat seperti Leonard Binder
(pembimbing Amin Rais) menulis mengenai pemikiran Islam dan memberi nasihat
kepada pemerintah Indonesia
dalam memajukan perguruan tinggi?
Dalam rangka merespons perdebatan dualisme dan fusionisme di atas,
Abbasjuga memaparkan tiga opsi bagi pengembangan studi keislaman di masa
depan dengan masing-masing kelemahan
dan kelebihannya. Pertama, pemeliharaan kriteria tertentu sebagai standar
kualifikasi untuk menentukan mana studi yang layak disebut sebagai studi
keislaman (discursive boundary
maintenance). Kedua, mendorong dialog antara wacana akademisi Barat dan
pemikiran Islam demi terwujudnya pertukaran keilmuan dan pemahaman yang
lebih menyeluruh dan kritis
(cross-discursive dialogue). Ketiga, mendorong upaya pengkajian budaya lain
guna mengemukakan kritik atas budaya sendiri (radical instrospection). ***
END:VEVENT
END:VCALENDAR