Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the acf domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain bridge dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
BEGIN:VCALENDAR PRODID://WordPress//Event-Post-V5.9.2//EN VERSION:2.0 BEGIN:VTIMEZONE TZID:Asia/Jakarta BEGIN:DAYLIGHT TZOFFSETFROM:+0100 TZOFFSETTO:+0700 DTSTART:19700329T020000 RRULE:FREQ=YEARLY;BYDAY=-1SU;BYMONTH=3 END:DAYLIGHT BEGIN:STANDARD TZOFFSETFROM:+0700 TZOFFSETTO:+0100 TZNAME:CET DTSTART:19701025T030000 RRULE:FREQ=YEARLY;BYDAY=-1SU;BYMONTH=10 END:STANDARD END:VTIMEZONE BEGIN:VEVENT SUMMARY:[Ringkasan Artikel Risos #5] Normalisasi Intoleransi di Indonesia: Studi Kasus Pilpres 2019 UID:https://www.dev.paramadina-pusad.or.id/ringkasan-artikel-risos-5-normalisasi-intoleransi-di-indonesia-studi-kasus-pilpres-2019/ LOCATION: DTSTAMP:20220527T100000 DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20220527T100000 DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20220527T160000 DESCRIPTION:Reading in Social Sciences (RISOS) #5 Normalisasi Intoleransi di Indonesia: Studi Kasus Pilpres 2019 Jumat, 27 Mei 2022, 14:00-16:00 WIB. Ringkasan Artikel Jurnal Judul: The normalization of intolerance: The 2019 presidential election in Indonesia Penulis: Risa J. Toha, Dimitar D. Gueorguiev, dan Aim Sinpeng Penerbit: Electoral Studies 74 (2021) Tebal: v + 10 halaman Artikel ini bermula dari anggapan umum bahwa penerimaan sosial atas intoleransi diyakini akan mendorong intoleransi di tingkat individual, suatu proses yang dirujuk sebagai normalisasi. Tingkat intoleransi sosial biasanya sangat tinggi pada masa kampanye pemilu, ketika retorika para kandidat yang bertarung dalam memenangkan pemilu cenderung meminggirkan kelompok-kelompok minoritas atau yang dianggap musuh atau saingan. Namun, di luar kaitan elektoral ini, sebetulnya masih belum jelas bagaimana normalisasi berhubungan dengan tingkat kesukaan orang pada satu kandidat (partisanship). Apakah normalisasi hanya mempengaruhi para pendukung kandidat yang intoleran, atau apakah normalisasi menyebar ke semua populasi – bahkan ke para pendukung lawan-lawannya? Terkait dengan itu, apakah target intoleransi hanya kelompok-kelompok tertentu saja, atau mencakup semua kelompok minoritas dan mereka yang dianggap saingan atau musuh? Apa pelajaran yang bisa kita petik dari riset ini, agar pemilu yang akan datang tidak lagi menjadi ajang penyebaran intoleransi? Artikel ini ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas berdasarkan eksperimen survei yang dilaksanakan ketika Pilpres 2019 di Indonesia. Survei dilaksanakan pada awal April 2019, sekitar 1 minggu sebelum pemilihan presiden dilaksanakan. Survei ini melibatkan 1213 responden warga negara Indonesia dewasa yang direkrut secara daring. Selain mengumpulkan informasi demografis responden dan pilihan politik mereka, survei juga membagi responden ke dalam 3 kelompok (control group, norms treatment, national motto treatment) untuk mendapatkan perlakuan khusus sebagai bagian dari desain eksperimen. Untuk memperoleh gambaran soal perilaku responden terhadap tiga kelompok minoritas yang biasa menjadi target kampanye intoleran (non-Muslim, etnis Tionghoa, non-Jawa), responden juga mendapatkan pertanyaan apakah mereka setuju apabila tiga kelompok tersebut menjadi pemimpin politik di Indonesia. Temuan-temuan riset ini menunjukkan bahwa normalisasi mempengaruhi semua pemilih, meskipun dalam cara-cara yang mencerminkan afiliasi dan retorika partisan. Bias intoleransi terhadap kelompok minoritas di ranah politik belum tentu diturunkan ke dalam perilaku intoleransi di ranah sehari-hari seperti kesediaan mengirimkan anak mereka ke sekolah dengan guru yang memiliki agama berbeda, tinggal dekat dengan rumah ibadat pemeluk agama lain, dan berteman dengan anggota kelompok yang berbeda. Semua ini berimplikasi pada bagaimana kita nantinya mempelajari politisasi identitas dan dalam kondisi apa intoleransi cenderung menyebar dan berkembang-biak. Artikel ini penting dan relevan untuk didiskusikan bukan saja dari segi temuan-temuannya, melainkan juga dari segi metode dengan apa pertanyaan studi ingin dijawab. Apa sumbangan riset ini dalam upaya kita memahami masalah yang kompleks terkait penyebaran intoleransi melalui pemilu? Temuan-temuannya sendiri sangat relevan untuk kita dalami dan diskusikan karena kita sedang menyongsong pemilu 2024. *** END:VEVENT END:VCALENDAR