Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the acf domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain bridge dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/k2237428/dev.paramadina-pusad.or.id/wp-includes/functions.php on line 6131
PUSAD Paramadina | Desa Wonorejo, Desa Toleran di Situbondo
 

Desa Wonorejo, Desa Toleran di Situbondo

Desa Wonorejo, Desa Toleran di Situbondo

Situbondo dulu dengan Situbondo sekarang berbeda jauh. Toleransi di kota itu terasa sekali. Menurut Ustad Mansyur Arif, salah satu pimpinan ponpes di kota itu dalam sebuah perbincangan, kerukunan umat beragama telah terwujud setelah 18 tahun lalu, tepatnya pada 1996 terjadi tragedi yang memalukan dan memilukan terjadi di Situbondo, di mana ada pembakaran gereja se-kabupaten Situbondo. “Pasca kejadian itu, masyarakat Situbondo, secara perlahan merajut kembali toleransi antar umat beragama.”

Hal itu terjadi Ketika Gereja Bethel Tabernakel (GBT) Wonorejo Banyuputih Situbondo Jawa Timur saat perayaan Natal tahun 2019 yang dihadiri juga oleh umat Katolik, Hindu, Budha dan Islam.

Dalam perayaan Natal ini ikut berpartisipasi para perwakilan pemuda dan para tokoh lintas agama yang berada di Desa Wonorejo, acara natal itu berlangsung dengan damai tanpa ada kerusuhan terjadi, dari mulai pukul 18.00 wib hingga pukul 20.30 wib.

Ketua pemuda karang taruna Gema (Gerakan Mahardika) Wonorejo, Supriyanto bertutur bahwa, kegiatan hari besar keagamaan seperti perayaan natal itu merupakan bentuk toleransi umat beragama.

Supriyanto berkisah, Desa Wonorejo sendiri disebut desa kebangsaan karena warganya menganut lima agama, yakni Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Islam. Di setiap perayaan keagamaan di desa ini sudah menjadi tradisi untuk saling menghormati, toleransi tanpa memandang dari agama apapun. Dalam setiap perayaan keagamaan turut hadir apabila diundang salah satu agama untuk merayakan hari besarnya, yaitu hanya perayaan bukan ibadahnya.

“Kearifan lokal dan tradisi tersebut akan selalu terjaga untuk mempererat hubungan sesama antar umat, karena di desa kami bentuk keharmonisan antar umat beragama sangat baik, ini sudah menjadi satu budaya kearifan lokal yang turun menurun hingga kini dan menjadi perekat untuk mempersatukan kita antar umat beragama di desa Kebangsaan Wonorejo dan harus tetap dipertahankan,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis bekerjasama dengan PUSAD Paramadina dan didukung GUYUB – UNDP.

Pewarta : Irwan S

Sumber: https://pgi.or.id/desa-wonorejo-desa-toleran-di-situbondo/

PUSAD Paramadina
admin@paramadina-pusad.or.id